6 Sifat Menjadi Pemimpin Baik Ala Julius Ceaesar

Untuk menjadi pemimpin yang baik, harus banyak-banyak belajar. Caranya, dengan meneladani sifat kepemimpinan tokoh-tokoh sukses. Namun, gak salah juga lho belajar dari kesalahan-kesalahan mereka.

Mendengar kisah sukses para pemimpin memang gak ada bosan-bosannya. Banyak ilmu dan teladan yang bisa diserap dari setiap tindak-tanduk mereka. Gunakan itu sebagai sarana untuk introspeksi diri agar menjadi lebih baik lagi di kemudian hari.

Salah satu tokoh yang bisa kamu jadikan referensi adalah Julius Caesar. Siapa yang gak kenal tokoh pemimpin militer Romawi ini? Berkat kepemimpinannya, wilayah kekuasaan Romawi semakin meluas. Ia juga mampu memenangkan beberapa pertempuran di wilayah Eropa Barat.

Bakat kepemimpinannya ini juga didukung oleh latar belakang pendidikan yang baik. Lahir dari keluarga bangsawan, ia selalu mendapatkan pendidikan yang terbaik, jadi gak heran kalau kecerdasannya di bidang politik dan perang di atas rata-rata.

1. Tak perlu bertele-tele sebagai pemimpin

Kalian mungkin sering mendengar kata-kata “Veni, Vidi, Vici”. Kata-kata legendaris itu ternyata dikutip dari surat yang ditulis oleh Julius Caesar kepada pemerintahan Roma.

Saat itu, ia sebagai pemimpin pasukan Roma, ia tengah menggempur Kerajaan Pontus yang kala itu dipimpin oleh Pharnaces II. Hasilnya, Julius Caesar berhasil menang dan merebut kekuasaan. Sebagai pemimpin ia pun diwajibkan untuk menulis laporan kepada pemerintah pusat Roma. Ia pun menulis “Veni, Vidi, Vici” yang artinya “Saya datang, saya melihat, dan saya menang”.

Pesan sesimpel itu ternyata membekas hingga saat ini dan justru sebagai salah satu pesan terkuat yang pernah ada. Meski singkat, surat tersebut lebih efektif ketimbang laporan yang mendetail dan panjang.

Pelajaran yang bisa dipetik, sebagai pemimpin yang baik cobalah untuk memberikan pesan lebih singkat, padat, namun membekas di hati bawahan.

Baca Juga : 10 Produk Atau Barang Yang Paling Laku Di Toko Online

2. Berani ambil risiko

Sungai Rubicorn merupakan sungai kecil yang menjadi sakral di masyarakat Roma Kuno. Karena sungai tersebut memisahkan dua daerah kekuasaan penguasa paling kuat saat itu, Julius Caesar dan Pompeius. Jika salah satu melewati sungai itu, ia tak bisa kembali lagi karena akan mendapatkan hukuman mati. Pilihannya hanya ada dua, maju atau mati.

Nah saat itu, Julius Caesar sudah berada di pinggir sungai bersama dengan pasukannya. Dia berupaya untuk merombak Romawi dan melebarkan wilayah kekuasaannya. Hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk menyeberangi sungai beserta rombongan pasukan perangnya, meskipun itu sudah dilarang oleh senat Roma.

Tapi kemudian, risiko yang ia ambil itu berbuah manis lewat pertempuran panjang selama bertahun-tahun, dan Pompeius pun tunduk di bawahnya.

Pelajaran berharganya, pemimpin yang baik jangan takut mengambil risiko. Karena tidak ada yang akan tahu seperti apa ke depannya. Namun, kalau tidak bertindak apa-apa, kamu gak bakal bisa meraih kesuksesan.

3. Mulailah dari hal kecil  

Untuk menjadi sosok pemimpin yang besar kadang kalian harus memulainya dari hal-hal kecil dulu. Jangan langsung menginginkan hasil yang besar, tapi raihlah sesuatu dari yang terkecil tapi bertahap.

Nah itulah yang terjadi pada Julius Caesar, saat kehilangan warisan semasih muda. Saat itu padahal ia sudah menjadi pemimpin perang. Bukannya terpuruk, ia justru mencoba untuk merebut kembali dengan cara menguasai sebuah desa kecil di Pengunungan Alpen dan berkata “Saya yakinkan bahwa saya lebih suka menjadi orang pertama di sini ketimbang orang kedua di Roma,”.

Itulah yang membuatnya menjadi salah satu pemimpin yang baik sepanjang sejarah, karena tak terlalu berambisius terhadap hal-hal yang besar.

4. Jangan membohongi diri sendiri

Sebagai pemimpin kamu harus mengeluarkan keputusan terbaik. Caranya adalah dengan mempertimbangkan hati dan naluri. Tapi yang gak kalah penting adalah memperhatikan rasionalitas.

Inilah yang dilakukan oleh Julius Caesar saat memimpin armada perang Romawi. Saat terjadi Perang Galia, Julius Caesar selalu mengesampingkan egonya dalam memberikan instruksi, dan selalu mengutamakan rasionalitas. Ia tetap memadukan keduanya, yakni ego dan rasionalitas, namun tidak membiarkan ego mendominasi tindakannya.

Berkat keputusannya yang tepat akhirnya ia berhasil menguasai wilayah Galia

Baca Juga : Ini 5 Cara Memulai Bisnis Online yang Menguntungkan

5. Jangan mudah puas, perhatikan hal-hal buruk yang dapat terjadi

Meskipun kondisi kamu dalam keadaan yang baik-baik saja dan aman, seorang pemimpin yang baik tidak akan pernah merasa puas. Sebaliknya, ia justru selalu mengantisipasi terjadinya hal-hal buruk. Inilah satu teladan baik lagi yang bisa dipetik dari Julius Caesar.

Ia meyakini bahwa Dewa pasti akan memberikan hukuman pada orang yang bersalah. Sekalipun seseorang sedang berada di dalam kondisi kemakmuran yang melimpah, tapi suatu saat akan mendapatkan penderitaan yang lebih parah.

Nah sikap ini yang selalu tertanam di diri Julius Caesar. Meski berada di puncak pemimpin diktator Roma, ia tetap menerima adanya konflik di internal kekuasaannya.

6. Pemimpin yang baik gak pernah rendah diri

Julius Caesar termasuk seorang pemimpin yang percaya diri. Pernah suatu kali ia diculik oleh perompak. Sang perompak meminta tebusan sejumlah 20 talent (mata uang Roma). Tapi, bukannya takut, Julius Caesar justru tertawa dan malah menawarkan 50 talent kepada perompak. Ia juga balik mengancam para perompak yang menculiknya bahwa ketika bebas, ia berjanji untuk memburu dan membunuh mereka.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *